Anda mungkin bertanya-tanya apa itu Lung Isun/Long Isun? Ya, Lung Isun atau dalam tulisan administratif pemerintahannya Long Isun merupakan salah satu kampung atau desa yang terletak di ujung negeri perbatasan tepatnya di Kecamatan Long Pahangai Kabupaten Mahakam Ulu. Long Isun yang merupakan salah satu wilayah yang hingga saat ini masih menjaga kelestarian hutan adatnya. Terlepas dari semua itu, terkuak cerita dan sejarah yang terkandung dan telah lama tersimpan di memori para pendahulu atau nenek moyang bagaimana kampung ini terbentuk.
| Masyarakat Long Isun saat Menarikan Tari Ritual Hudoq |
SEJARAH LONG ISUN
Pada jaman dahulu sekitar 300 tahun
yang lalu, masyarakat Dayak sub suku Dayak Bahau Busaang atau yang biasa disebut Dayak Kayaan Mekaam mempunyai kebiasaan
hidup yang berpindah-pindah tempat atau dengan kata lain nomaden. Hal ini dikarenakan kehidupan
mereka yang sangat bergantung dengan hasil dan kekayaan alam.
Apabila mereka susah dalam mendapatkan makanan dan mempertahankan kehidupan
mereka disuatu tempat, maka mereka akan dengan sendirinya berpindah tempat atau
wilayah sesuai dengan kesepakatan dan perintah dari atasan mereka yakni orang
yang di ‘tua’ kan atau disebut dan dianggap sebagai
bangsawan mereka.
Begitupula yang telah dilakukan oleh kampung Long Isun pada zaman dahulu.
Mereka juga menganut sistem budaya kehidupan nomaden atau berpindah-pindah. Menurut cerita yang berkembang dan
menurut keterangan dari pihak Dewan Adat Kampung Long Isun, bahwa pada awalnya asal masyarakat
kampung Long Isun yang
merupakan sub Suku Dayak Uma’ Suling tinggal didataran
puncak yang dinamakan Apau Suling
(Bahasa Bahau Uma’ Suling) atau tempat tinggi yang ditinggali oleh orang uma’
suling. Uma’ Suling adalah salah satu anak sub suku Dayak Bahau Busaang dan
merupakan masyarakat mayoritas yang tinggal didaerah hulu riam sungai mahakam.
Dari Apau Suling mereka kemudian
berpindah ke wiilayah Lulau Paku’
atau suatu wilayah yang masih berada di Sungai Melaseh. Karena berbagai hal dan
alasan mereka kemudian berpindah lagi ke Long Isun, yaitu kampung sekarang yang
mereka tinggali. Setelah beberapa dekade, mereka berpindah lagi kembali ke Lulau Paku’ karena beberapa alasan hingga akhirnya mereka
kemudian berpindah lagi ke Long Isun dan menetap disana hingga beranak pinak.Saat itu pula diantara mereka kemudian ada yang memisahkan diri hingga menjadi Kampung Long Pahangai I dan Kampung Naha Aruq.
Saat dikampung
Long Isun inilah mereka mulai membangun kehidupan mereka yang sebenarnya,
karena mereka sudah tidak lagi memiliki niat untuk pindah ke wilayah lain.
Mereka menjalani kehidupannya dengan tetap bergantung pada hasil alam dengan terus
mengasah kemampuan mereka pada bidang pertanian dan perikanan. Salah
satu kegiatan yang mereka lakukan adalah bertani dengan sistem ladang berpindah
seperti ciri khas masyarakat Dayak
ada umumnya. Kehidupan ini secara terus menerus mereka jalani dengan
tetap memperhatikan nilai adat
istiadat, budaya, serta tradisi yang sudah sangat melekat pada
diri dan kehidupan mereka.
| Inside picture. Kampung Long Isun lama sebelum pemekaran (Regrouping) kampung |
Dalam tatanan kehidupan dikampung Long Isun, mereka membagi kasta/derajat yakni
kasta Bangsawan/Hipui yakni kasta tertinggi yang ada didalam kampung Long Isun,
kemudian kasta kedua adalah Panyin yakni kasta masyarakat yang termasuk dalam
golongan masyarakat biasa. Dalam
menjalani kehidupannya,
warga Long Isun dalam
setiap kegiatan adat yang akan
mereka lakukan, baik perkawinan, persidangan adat, kebijakan dan lain-lain yang
menyangkut dengan adat
selalu bergantung pada keputusan pemimpin mereka. Untuk itu,
didalam kampung Long Isun terdapat orang yang mereka percaya untuk diangkat
sebagai orang besar atau dalam bahasa Bahau Busaang Uma’ Suling disebut
Hipui/Bangsawan. Para Hipui atau bangsawan inilah yang kemudian memberikan dan
membuat keputusan untuk segala hal yang menyangkut kepentingan warga kampung
Long Isun, sehingga mereka sangatlah disegani oleh para masyarakat biasa atau
yang mereka sebut dengan sebutan Panyin´. Dengan kekayaan seni budaya serta kebiasaan adat istiadat yang dimiliki, Long Isun kemudian terdiri dari beberapa orang Hipui bermaksud untuk memisahkan diri dengan alasan untuk mencari penghidupan lain serta tempat baru. (Cerita dari berbagai sumber).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar